Bye Bye GeoCities
GeoCities adalah tempat hosting website pertama saya. Dan itu belasan tahun yang lalu. Wuih gak kerasa.
Dan sometime this year, GeoCities akan gulung tikar. Bye bye GeoCities.
GeoCities adalah tempat hosting website pertama saya. Dan itu belasan tahun yang lalu. Wuih gak kerasa.
Dan sometime this year, GeoCities akan gulung tikar. Bye bye GeoCities.
Yang udah kecanduan twitter dan takut ketahuan boss, ini bisa jadi solusinya: Spreadtweet. Tweet tools yang kelihatan seperti spreadsheet.
Bisaan aja ..
Tapi untuk web programmer, malah justru mencurigakan ya kalau sering terlihat sedang membuka Spreadsheet, haha. Mungkin lebih pas kalau pakai TwitterFox, addon-nya Firefox untuk nge-tweet. Waktu hidup kita kan lebih banyak di web browser. Lagian nggak mengganggu juga ketika kita benar-benar sedang bekerja.
Btw, follow me ya: @eristemena. Then i will follow you ..
Seru juga melihat proses penulisan “The Founder Visa” oleh Paul Graham (salah satu penulis essay favourite saya).
Penulis sekaliber Paul Graham pun, ketika nulis essay bisa sampai menghapus satu dua paragraf sekaligus yang dinilai kurang sreg. Dan menarik juga proses pemilihan kata-katanya, ada yang satu kata diubah berkali-kali sampai benar-benar dapet feel-nya :-).
Tapi hasil akhirnya, hmm .. selalu enak dibaca, jelas dan seringkali membuat kita berpikir ulang tentang hal-hal yang mungkin sudah dianggap lazim bagi kebanyakan orang.
Resesi di Amerika terus memakan korban, khususnya dari kalangan pekerja di bidang IT. Techcrunch mencatat, sebanyak 320.000 pekerja IT telah kehilangan pekerjaannya sejak Agustus tahun lalu. Dan sepertinya angka itu masih akan terus bertambah.
Situasi ini nampaknya dimanfaatkan oleh perusahaan pengembang software raksasa, Adobe, untuk mempromosikan produk mereka. Baru-baru ini Adobe memberikan secara cuma-cuma salah satu software andalan mereka, Adobe Flex Builder, khusus untuk programmer yang terkena PHK.
Seperti sudah diduga, software ini cuma boleh digunakan untuk keperluan pribadi, bukan komersil, dan hanya untuk meningkatkan skill saja. Tidak boleh di-copy atau diberikan kepada orang lain termasuk perusahaan yang kelak mempekerjakannya.
Ironis juga sih, mengingat Adobe termasuk perusahaan yang merumahkan 600 orang karyawannya akibat krisis. Dan bisa jadi beberapa diantaranya adalah programmer yang membuat Adobe Flex Builder.
Saya pikir, sudah tidak disangsikan lagi, bahasa Inggris secara de facto adalah bahasa pemrograman dunia. Bukan hanya dalam syntax atau kode pemrogramannya saja, tapi juga dalam semua hal yang terkait seperti dokumentasi teknis, tutorial, artikel atau buku-buku tentang bahasa pemrograman tersebut.
Saya setuju dengan tulisan Jeff Atwood ini. Penggunaan bahasa Inggris dalam pemrograman bukanlah persoalan Nasionalisme atau niat jahat untuk mendominasi dunia. Saya juga meragukan kalau itu dikarenakan umumnya bahasa pemrograman dibuat oleh orang Amerika, karena Python dibuat oleh Guido van Rossum yang notabene berkebangsaan Belanda.
Sebagaimana persoalan teknis lainnya, penggunaan bahasa Inggris adalah semata-mata kesepakatan kolektif dari programmer untuk berkolaborasi diantara mereka. Mungkin seperti bahasa latin yang dulu digunakan dalam sains. Sementara kita, yang tidak terlibat sejak awal bahasa pemrograman komputer dibuat, tidak ada pilihan lain kecuali mengikutinya.
Pilihan untuk menggunakan bahasa Inggris dalam pemrograman adalah satu paket dengan pilihan bahasa pemrograman yang akan kita gunakan. Dan terus terang, pilihan untuk tidak menggunakan bahasa Inggris tidak begitu populer. Kecuali Anda bisa membuat program sendiri tanpa perlu berkonsultasi dengan orang lain, sebaiknya hanya gunakan bahasa pemrograman yang populer dan dalam bahasa Inggris. Google pun akan lebih banyak membantu jika solusi yang anda cari ditulis dalam bahasa Inggris.
Maka tidak heran, kalau keterbatasan skill programmer biasanya berbanding lurus dengan keterbatasannya dalam berbahasa Inggris. Setidaknya kemampuan dalam membaca dan memahami tulisan dalam bahasa Inggris.
Oleh sebab itu, saya selalu menyarankan kepada mereka yang baru belajar untuk hanya menggunakan buku-buku pemrograman yang ditulis dalam bahasa Inggris. Atau membaca dokumentasi, tutorial atau artikel dalam bahasa Inggris saja. Karena menurut saya, lebih mudah bagi kita untuk mengartikan istilah dalam bahasa Inggris ke bahasa Indonesia dari pada sebaliknya. Mereka yang terbiasa menggunakan istilah dalam bahasa Inggris akan lebih cepat faham ketika harus membaca terjemahannya dalam bahasa Indonesia.
Mungkin ini karena kebanyakan buku terjemahan tidak begitu akurat dalam menterjemahkan. Atau terlalu brutal dalam menterjemahkan, sehingga istilah-istilah dalam bahasa Inggris yang sudah umum digunakan ikut juga diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia yang tidak baku. Kadang istilah yang sama diartikan berbeda tiap buku. Saya sendiri, ketika membaca artikel atau tutorial dalam bahasa Indonesia, harus menterjemahkan ke bahasa Inggris terlebih dulu di kepala untuk bisa memahami maksudnya. True story.
Ini bukan berarti kita tidak butuh buku-buku dalam bahasa Indonesia. Untuk mereka yang sama sekali baru, pengantar dalam bahasa Indonesia bisa sangat membantu untuk memberi gambaran kenapa mereka harus menggunakan bahasa pemrograman tertentu. Untuk kemudian diajak lebih jauh mempelajari bahasa pemrograman tersebut dalam bahasa aslinya, bahasa Inggris. Caranya bisa dengan menyertakan referensi aslinya atau membiarkan istilah-istilah pemrograman yang sudah umum tetap dalam bahasa Inggris.
Jawabannya iya, kalau menurut artikel di TechCrunch ini. Dengan melihat trend pencarian di Google yang menunjukan jumlah pencarian kata “web 2.0” yang semakin menurun, penulis menyimpulkan bahwa web 2.0 sudah mendekati ajalnya. Orang sudah tidak tertarik lagi membicarakan web 2.0, itu artinya web 2.0 sudah mulai ditinggalkan orang.
Tapi apakah web 2.0 benar-benar sudah mati? Saya tidak tahu. Saya pribadi tidak begitu nge-fans dengan istilah web 2.0. Jadi saya tidak merasa kehilangan kalaupun web 2.0 harus “mati”. Istilah web 2.0 hanya bagus terlihat di Power Point saat presentasi atau mejeng di website perusahaan, kartu nama atau portfolio. Tapi dalam realitasnya, kata itu terlalu sering membingungkan orang. Orang yang nge-fans dengan web 2.0 pun belum tentu ngerti apa yang ia bicarakan.
Sering klien datang meminta agar website-nya dirombak jadi “lebih web 2.0″, yang kemudian ternyata yang dimaksud adalah agar websitenya lebih terlihat glossy, simple, dengan warna-warna cerah (yang dia sebut warna web 2.0), logo dengan bayangan di bawahnya dan ada tulisan “beta” di kanan atasnya.
Kalaupun ada klien yang sedikit lebih ngerti teknologi, mereka mengartikan web 2.0 sebatas penggunaan AJAX di websitenya. Itupun sering keliru dengan penggunaan animasi atau efek-efek Javascript saja.
Jadi, menurut saya bagus juga kalau orang mulai berhenti membicarakan web 2.0. Karena bisa jadi itu menunjukkan bahwa orang mulai mengerti apa yang sebenarnya mereka inginkan.
Ketika orang banyak membicarakan, mendiskusikan dan coba mengimplementasikan web versi mobile. Saya pribadi menggunakan telepon selular persis seperti digambarkan dalam grafik ini:
http://graphjam.com/2009/01/18/song-chart-memes-usage-of-my-cell-phone/
Itu juga setelah ganti handphone. Sebelumnya urutan ketiga adalah buat penerangan darurat ketika mati lampu. Tau kan model handphone yang ada senternya itu? mungkin sekarang sudah nggak keluar lagi.